Catatan Tentang Perpisahan
aku hanya ingin berbicara kepada tawa, bulatan oranye matahari senja, tentang dia.
dia, yang tak pernah aku mengerti.
dia, racun yang membunuhku perlahan.
sebelah dariku menginginkan dia pergi, membencinya hingga muak mendekati gila, menertawakan segala kebodohanku karena telah jatuh hati padanya.
akan kubakar karcis kereta api, bon cafe, semua tulisan -bukti bahwa aku dan dia pernah saling tergila gila-, semoga dia pergi dan tidak menoleh lagi, hidupku -dan mungkin juga hidupnya- pasti akan lebih mudah.
tapi, sebelah dariku menginginkan dia datang, mengamini semua mimpi kami, dan untuk kesekian kali, jatuh hati lagi, segila-gilanya. aku dan dia kemudian mendamparkan diri untuk mengenang setiap inci perjalanan, dan kesabaran hati.
terima kasih untuk perjalanan mahal ini. aku pertaruhkan segala demi apa yang aku rasa benar. mencintainya pernah menjadi kebenaran tertinggiku.
dan kubiarkan dia melaju dengan kereta yang berbeda. aku? keretaku rasanya tidak sabar membawaku melaju. kami percaya, suatu hari kami akan bertemu di perjalanan yang sama, jika memang benar begitu adanya.
perpisahan, sebagaimana kelahiran dan kematian, juga pertemuan melekat seperti koin. bertolak belakang, namun tidak terpisahkan. ada perpisahan, (pasti) ada pertemuan selanjutnya.
semoga beruntung, dan sampai jumpa.
*Tulisan seorang teman yg dimuat di notes facebooknya. Theresia Karninda. Semoga kamu cepat menemukan maknanya, kawan..