Putus rantainya!

Puji Tuhan hari ini saya dikasih kesempatan untuk berdebat dengan dua generasi lain. Menguras emosi jiwa dan raga sih, tapi saya tetap bersyukur. Bersyukur karena walaupun sedikit, ada yang bisa saya sampaikan kepada mereka.

Singkat cerita terjadi perbedaan pendapat yang menurut mereka ‘anak jaman sekarang’ hanya ingin praktisnya saja. Saya kesal, sedih, dan gemas sih dianggap begitu. Padahal banyak juga yang sebenarnya dilakukan sesuai esensinya hanya saja berbeda cara.

Sedih rasanya karena dari apa yang saya lihat dan saya pelajari, banyak hal, beberapa jadi tradisi, yang justru kehilangan esensinya. Udah kehilangan esensinya, diagung-agungkan, jadi budaya, lalu kalau dikritik malah marah. Jangankan dikritik, dipertanyakan aja sering kita dianggap ga sopan. Nah, PR-nya tetep gimana cara ngebenerin waktu tau gimana yang benernya.

Kita coba ya. Pernah punya acara keluarga yang melibatkan tumpeng? Tumpeng yang ditaruh di tengah lalu setelah ucapan syukur dipotong bagian pucuknya?

Gimana kalo upacara yang melibatkan satu atau dua generasi di atas kita itu tiba-tiba disabotase dengan menghilangkan prosesi potong tumpeng? Terus secara halus (ataupun tidak) kita bilang bahwa mereka salah kalau memotong bagian pucuk tumpeng? Kalau punya nyali melakukannya, jangan lupa ya untuk siap-siap bikin C1 sendiri.

Padahal ada penjelasannya baik dari sisi relijius maupun logis teknis, lho. Selengkapnya monggo di baca sendiri.

Konon katanya bagian yang biru bisa buat menghapus tinta.

Konon katanya bagian yang biru bisa buat menghapus tinta.

Sudah baca penjelasan kenapa tumpeng ga sebaiknya dipotong pucuknya? Jadi, mana yang penting? Tradisinya atau esensinya?

Pernah suatu kali kejadian juga saya dengan nenek. Kali itu nenek saya mendapati saya masih tertidur jam 12 siang. Setelah menelpon berkali-kali yang ga saya angkat, karena masih enak mimpiin , beliau langsung marah-marah waktu telpon saya angkat dengan suara bantal. Katanya “Kerjaannya ko bangun siang?”

Gemas rasanya. Emang kenapa kalau saya bangun siang?

Bukannya bangun pagi karena takut rejeki dipatok ayam itu kan pedoman jaman dulu? Waktu hampir semua pekerjaan dilakukan pagi hari dan diakhiri sore hari. Waktu belom ada cafe 24 jam, belum ada TV dan radio yang nyala 24 jam, bahkan mungkin sebelum TV dan radio ada. Waktu bikin film, video, aplikasi, strategic marketing, dll belom jadi pekerjaan yang menjanjikan.

Kalau sekarang jargon itu diterapkan, kenapa mereka yang begadang tengah malam buat nyiapin pitching bisa punya mobil? Kenapa programer bisa jualan aplikasinya sampai angka em-em-an? Kenapa DJ itu duitnya juga ga sedikit? Kemana ayam yang matok rejeki mereka? Kesorean mungkin bangunnya,

Akhirnya saya bisa bilang, saya ga takut rejeki saya dipatok ayam karena bangun siang setelah ngelembur. Sebelum ayamnya bangun, rejekinya udah abis duluan saya lahap.

Ayam Geprek Bu Rum. Ayam yang ini udah ga bisa matok lagi.

Ayam Geprek Bu Rum. Ayam yang ini udah ga bisa matok lagi.

Salah satu yang juga suka bikin gemes adalah generasi di atas seringkali mencap generasi di bawahnya buruk, mau gampangnya, mau seenaknya sendiri, tidak lebih baik dari yang sebelumnya, dan lain-lain. Rasanya ingin sekali teriak di kuping mereka ‘Ya kan generasi ini tercipta dari mereka juga!’ Tapi katanya itu ga sopan.

Pernah suatu kali adik saya cerita tentang dia yang berpapasan dengan orang tua di jalan. Waktu itu adik saya naik motor, karena pelan dia mengambil jalan di sebelah kiri, agak mepet trotoar. Tepat di depannya ada bapak-bapak naik motor melawan arah. Bapak itu klakson-klakson tapi adik saya ga mau memberi jalan. Pas sudah dekat bapak itu marah-marah. Saya sudah klakson dari jauh kenapa kamu ga mau minggir, katanya. Adik saya bersikeras juga bahwa seharusnya bapak itu ga jalan di situ, harusnya di jalur yang benar, di sebelah kanan adik saya atau kiri bapak itu.

Ga terima disalahkan bapak itu turun dan marah-marah. Merasa benar adik saya bilang, kalo ga terima kita ke kantor polisi aja. Padahal waktu itu dia ga bawa STNK. Berani juga dia menggertak.

Setelah berdebat beberapa kali dan ga mau diajak ke kantor polisi, bapak itu pergi sambil bilang “Dasar! Dikasih tau orang tua ko ngelawan.”

Adik saya ketawa, entah logika macam apa yang dipakai. Saya setuju. Lalu ikut tertawa.

Mungkin bapak itu hidup waktu belom ada kendaraan, belom ada sepeda, jalan baru seadanya, belom ada aturan yang disepakati bersama bahwa jalan itu harus di sebelah kiri untuk keselamatan semua. Lebih parahnya lagi, mungkin bapak itu belum bisa beradaptasi dengan banyak hal baru dan menganggap kebenarannya postulat.

Sialnya hal ini terjadi dalam mata rantai yang mengerikan. Generasi sebelumnya menganggap dirinya paling benar dan generasi di bawahnya payah. Generasi adalah variabel yang kemudian diisi secara turun temurun.

Kalau dalam kasus adat pernikahan hal ini bisa terlihat jelas. Simbah buyutnya simbah buyut saya mungkin kalau menikah bisa menghabiskan 7 hari 7 malam dengan rundown yang njelimet. Lalu ada generasi di bawahnya memangkas beberapa item dengan alasan yang tentu saja mereka anggap baik dan generasi sebelumnya ga terima. Ketika yang pernah memangkas upacara, punya keturunan yang juga mau memangkas upacara, mereka ga terima juga. Begitu seterusnya sampai sekarang kalau menikah, paling-paling hanya 1 atau 2 hari saja.

Naskahnya selalu sama. Pemerannya yang bergilir.

Rasa-rasanya ada banyak hal yang kita anggap benar yang harus dievaluasi lagi deh. Mungkin lebih baik lagi kalau kita bisa menjadwalkannya secara berkala. Biar anak-anak kita besok ga ngerasain gemesnya kita sekarang. Ya ga sih?

Saya membayangkan ketika esensi terjaga dan pikiran terbuka lebar, hidup bisa lebih berwarna tanpa harus takut berbeda warna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s